Ditjen PAUD-DIKMAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini
dan Pendidikan Masyarakat

Tidak Bisa Baca Tulis, Rugi !

Tidak Bisa Baca Tulis, Rugi !
Dirjen PAUDNI talkshow dengan radio KBR 68H tentang Keaksaraan di Indonesia. (Dok. Teguh Susanto/HK)

06 September 2012 00:00:00

JAKARTA.  Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi Psikolog meminta para tutor keaksaraan memacu semangat warga tuna aksara dalam belajar menulis dan membaca. Sebab bila memiliki kemampuan tersebut,  mereka dapat berdaya secara ekonomi dan sosial.

“Rugi kalau tidak bisa baca tulis, karena banyak wawasan dan keterampilan yang bisa kita peroleh dengan membaca,” ucap Reni, sapaan akrab Dirjen PAUDNI dalam wawancara eksklusif dengan Radio KBR 68 H di Gedung Kemdikbud, (6/9).

Dalam telewicara yang disiarkan oleh 900 jaringan radio KBR 68 H se Indonesia tersebut, Dirjen mengakui memang tidak mudah mengajak warga buta aksara untuk belajar. Banyak kendalanya, antara lain tuntutan ekonomi.

Warga buta aksara merupakan masyarakat miskin yang lebih mengutamakan bekerja ketimbang belajar. “Tidak bisa kita pungkiri bahwa mereka harus mendahulukan kebutuhan dasar, mereka harus berladang, berkebun, atau melaut. Tidak mudah mengajak mereka belajar membaca dan menulis,” urai Reni.

Kendala Geografis

Selain itu, kondisi geografis Indonesia yang sangat luas dan keterbatasan anggaran Ditjen PAUDNI juga menjadi tantangan tersendiri. Reni berkisah, dirinya belum lama ini meninjau warga buta aksara di Tana Toraja. Butuh waktu sekitar 8 jam dari Makassar untuk menjangkau wilayah tersebut. “Sebaran wilayah yang sangat luas tentu menjadi tantangan tersendiri bagi kami dan para tutor. Tetapi kami tidak pernah menyerah,” tegasnya.

Sejumlah kendala ini diamini oleh beberapa penanya yang bertelewicara dengan Dirjen. Andre, warga Papua mengakui sangat sulit mengajak warga untuk belajar menulis dan membaca.  “Sulit mengubah pola pikir masyarakat di Papua,” keluh Andre.

Namun Dirjen PAUDNI menyakinkan bahwa pemerintah tidak pernah patah arang. Melalui delapan Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang tersebar dari Medan hingga Papua, Reni telah menginstruksikan agar mereka menggenjot program pemberantasan buta aksara. “Indonesia harus terbebas dari buta aksara, dan kita memiliki potensi untuk menjadi bangsa yang besar,” ujar Reni menyemangati. (Yohan Rubiyantoro/HK)

Semua Berita